Apa kabar generasi bangsa?

Perlu kita ketahui bahwa rusaknya moral bangsa itu tiap hari kian meningkat. Pemuda saat ini tak lagi mengenal kewajiban. Hanya mengenal hak yang menyimpang dan juga bergelut pada kesenangannya saja. Seperti maraknya korban kekerasan, pemerkosaan, pelecehan seksual, pencabulan, pem bully-an,terjangkitnya pelajar pada gemerlap narkobadan banyaknya pekerja yang masih dibawah umur.

Perlu kita ketahui bahwa rusaknya moral bangsa itu tiap hari kian meningkat. Pemuda saat ini tak lagi mengenal kewajiban. Hanya mengenal hak yang menyimpang dan juga bergelut pada kesenangannya saja. Seperti maraknya korban kekerasan, pemerkosaan, pelecehan seksual, pencabulan, pem bully-an,terjangkitnya pelajar pada gemerlap narkobadan banyaknya pekerja yang masih dibawah umur.

Tak jarang pula peran orang tua yang tega membunuh anaknya sendiri, dan juga pernah kita lihat kasus-kasus pembull-anguru sekolah terhadap muridnya. Jangan kira, gambaran “membunuh anak” di era modern ini bukan diartikan sebagaimana lazimnya. Mempekerjakan anaknya, memanfaatkan kecantikan anak sebagai cover majalah dewasa, menjual kehormatan anak, memperbudak anak layaknya pembantu, mendidik anak dengan didikan yang sesat dan juga tega membunuh anaknya sendiri. Karena sadar hal tersebut akan mematikan karakter anak yang seharusnya bukan yang demikian.

Kacang gak ninggal lanjaran,begitulah orang jawa berdalih atau bergumam, atau dalam istilah bahasa indonesia kita mengenalnya dengan sebutan “buah tak jatuh dari pohonnya”. Dari tindak tanduk orang tua. Karena dalam diri anak itu pasti terwarisi dengan sifat dari sifat kedua orang tuanya baik itu banyak ataupun Cuma sedikit. Maka dari itu, kita sebagai orang tua kelak harus memberikan atau memberikan ajaran-ajaran yang baik serta bermanfaat bagi para anak, sehingga anak itu bisa memberikan moral yang baik kepada masyarakat kelak.

Seringkali media itu mengabarkan bahwa kasus aborsi, bayi yang dibuang yang entaj dimana naluri hati oran tuanya itu, padahal Allah telah berfirman “Hendaknya anak itu mendapatkan transferan ASI (Air susu ibu) selama 2 tahun penuh (حو لين كاملين). Apalagi di Era ini memberikan asupan ASI ekslusif selama dua bulan penuh itu sangat dianjurkan oleh dokter. Dengan harapan, anak akan tumbuh cerdas seiring dengan bertambahnya asupan gizi ASI yang menanamkan jiwa kebajikan dan jiwa kebaikan pada dalam diri anak tersebut.

Oleh karena itu, pendidikan dari pihak keluarga itu sangatlah penting bagi kehidupan anak. Entah dari segi jasmani ataupun dari segi rohani. Siapa pula yang enggan memiliki anak dengan catatan prestasi yang gemilang? Tentu semua itu dapat bisa dicapai dengan adanya penerapan contoh sikap dari orang tua dari segi keluarganya, agar anak dapat melihat bahwa anak tersebut merupakan cerminan dari ayahnya ataupun ibunya. 

Baca Juga :  Peran Ibu Dalam Mendidik Anak Menurut Pandangan Islam

Indonesia butuh pendobrak oleh pemuda bangsa dan penerus perkembangan bangsa. Masa muda kita masih panjang. Sebuah harapan dan cita-cita kita masih diambang angan. Masih banyaknya peluang untuk kita dapat merubah keadaan Indonesia menjadi negara yang beradab dengan sebenar-benarnya adab, negara yang berprestasi karena pola pikir penduduk negri indonesia yang sangatlah berarti di kemudian kelak. 

Dapat disimpulkan bahwa kita ini bermula dari pendidikan keluarga sebagai tonggak awal serta bibit yang akan tumbuh subur, melalui masa-masa bangku sekolah dasar sehingga pupuk dari bibit yang akan berkualitas, dan dapat melalui sampai bangku perkuliahan. Tanamkanlah pada diri kita bahwa etika, norma kesopanan serta rasa kepedulian  akan negeri ini, maka terimalah generasi yang sesungguhnya. Generasi yang siap untuk mengharumkan nama baik bangsa Indonesia. Serta melahirkan generasi-generasi baru yang telah bersedia untuk melanjutkan perjuangan nenek moyang bangsa kita ini.

Dengan seiring berjalannya waktu, etika dan norma kesopanan ini mulai pudar dengan sendirinya secara perlahan pada ruang lingkup lingkungan sekitar atau pada ruang lingkup pendidikan. Seperti halnya ketika melewati depan guru atau orang yang lebih tuandengan se-enaknya, berbicara kasar atau dengan nada yang tinggi, menyela-nyela saat pembicaraan berlangsung, berkurangnya mengucapkan permisi, maaf, minta tolong, dan terima kasih saat berkomunikasi atau saat meminta sebuah pertolongan. Dengan  hal tersebut, maka biasakanlah untuk mengucapkan kata permisi, maaf, minta tolong, dan terima kasih untuk sesama manusia bukan hanya dalam hal meminta pertolongan saja, akan tetapi dalam semua hal.

Pada perkembangan Era Globalisasi seperti sekarang ini, marilah kita bersama untuk menghadapi tantangan pada Era Globalisasi ini yang terletak atau merujuk pada Pendidikan. Untuk mewujudkan suatu pendidikan itu sangatlah dibutuhkan sebagai peranan sosok pendidik yang memiliki kompetensi yang tinggi sehingga mampu untuk memberikan contoh yang baik terhadap peserta didik yang lainnya.

Baca Juga :  Perbedaan Pengertian Media dan Sumber belajar

Beberapa tahun belakangan ini, kualitas anak- anak pemuda bangsa ini semakin hari semakin menurun.  Anak muda adalah generasi penerus bangsa yang entah mau di bawa kemana bangsa ini. Anak muda saat ini tidak lagi giat dalam menghasilkan karya-karya yang terbaik, kini anak muda penerus bangsa sangat kecanduan atau sibuk dengan game online-nya, dan sibuk memikirkan dunia Maya. Mereka lebih senang duduk berjam-jam hanya untuk berselancar di dunia Maya dari pada membaca buku pelajaran. Mungkin pemerintah Indonesia saat ini masih belum melihat ancaman bagi generasi penerus bangsa ini, apa jadinya jika penerus bangsa ini terlena dan terkesan senang dengan yang instan saja?

Cara pandang bangsa ini menganggap generasi penerus bangsa ini bukan apa-apa dan menganggapnya sangatlah remeh bagi generasi mudahnya. Negara Indonesia ini terlalu untuk memfokuskan pada generasi tua saja yang sudah mempunyai jabatan yang tinggi, sehingga budaya kita cenderung membuat anak mudah kita semakin “manja” dan kurangnya rasa kemandirian.

Generasi penerus bangsa ini mungkin tidak dapat memperbaiki seluruh masalahnya yang sedang menerpa bangsa ini. Bukan berarti kita diam dan menunggu perubahan itu terjadi. Tugas kita adalah membuat jalan yang sedemikian rupa agar keturunan kita kelak bisa d bilang generasi penerus bangsa ini dengan mudah mengendalikan visi misinya, sehinggga bangsa ini bakal menjadi yang lebih baik lagi.

Ajarkanlah pada anak muda penerus bangsa ini dengan cara berinvestasi ketika membeli barang-barang produk luar maupun dalam, jangan dorong untuk membeli barang yang seharusnya tidak dibeli atau hanya cuma menurut i hawa nafsu, tetapi ajarkanlah anak untuk  berhemat dalam artian jangan memboroskan uang hanya untuk membeli barang yang tidak dibutuhkan, gunakanlah uangmu untuk membantu mereka yang kekurangan.

Baca Juga :  Prosedur penilaian pendidikan anak usia dini

Adapun hal yang paling mendasar dan yang paling sederhana untuk dapat dijadikan salah satu cara untuk mengatasi karakter dan etika dalam generasi penerus bangsa yaitu dengan membiasakan untuk melakukan budaya 5S. Apa itu 5S? 5S yaitu “ Senyum, Salam, Sapa, Sopan dan Santun” dalam setiap melakukan komunikasi antar sesama orang baik di lingkungan masyarakat atau lingkungan sekolah.

Hal itu memang sangatlah sederhana, tetapi sangatlah berpengaruh besar dalam membangun karakter anak dalam sebuah komunikasi. Budaya 5S ini merupakan suatu keharusan yang harus ditetapkan atau diterapkan oleh semua pihak ketika kita berkomunikasi atau berinteraksi, hal ini menunjukkan perilaku yang sangat baik ketika mengawali sebuah komunikasi. Maka dari itu, ajarkanlah anak sejak dini dengan membiasakan budaya 5S sehingga akan terbiasa saat menjadi pemuda kelak.

Selain dengan membiasakan budaya 5S ini, Gaya hidup (Life Style) sangatlah berpengaruh dalam kehidupan. Cara berpakian anak muda saat ini cenderung meniru gaya pakaian orang barat. Seperti yang kita tahu gaya berpakaian orang barat yang sangatlah terbuka, tidak memperlihatkan kesopanan nya dan menyimpang dari moral khususnya dikalangan wanita ini sangalah mengundang lawan jenis untuk melakukan tindakan porno. Tetapi mereka tak mau disalahkan atas tindakannya tersebut, justru mereka menyalahkan para lelaki yang telah memandang tubuh wanita tersebut.

Indonesia membutuhkan generasi penerus bangsa yang berani, loyal, bertanggung jawab dan sopan terhadap sesama. Indonesia membutuhkan pemuda yang tidak hanya omong kosong belaka, tetapi pemuda yang bisa memegang amanah setiap kata yang keluar dari mulutnya.

Maka dari itu, kita sebagai pemuda bangsa Indonesia, mari kita lihat kembali dalam diri kita. Sudah pantaskah kita menjadi generasi muda penerus bangsa? Maukah kita menjadi generasi muda penerus bangsa? Siapakah kita untuk menjadi generasi muda penerus bangsa? Mati kita bangun kepribadian dalam diri kita adat pantas atau layak menjadi generasi muda  penerus bangsa. Kita mulai dari hal yang terkecil, seperti bertanggung jawab dalam melakukan pekerjaan sehari-hari sehingga kita terbiasa untuk membangun kepercayaan orang lain kepada diri kita.

Nasib bangsa Indonesia kedepannya ini ada di tangan mereka. Apakah bangsa ini akan semakin maju ataupun malah sebaliknya? Semua itu ditentukan oleh pemuda generasi penerus bangsa.

“Kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, tetapi kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah bersemangat elang rajawali”. ( Bung Tomo).

Tags: