Pendidikan Karakter Untuk Generasi Muda

Sebagai Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara sadar bahwa pendidikan karakter merupakan faktor penting dalam sebuah perubahan. Setumpuk ilmu tidak akan membawa faedah apapun tanpa nilai-nilai rohani yang baik.

Sebagai Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara sadar bahwa pendidikan karakter merupakan faktor penting dalam sebuah perubahan. Setumpuk ilmu tidak akan membawa faedah apapun tanpa nilai-nilai rohani yang baik.

Prasetyo dan Rivaisintha sebagai ahli pendidikan Indonesia menyatakan, “Pendidikan karakter sebagai suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada peserta didik yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil.”

Dapat dipahami bahwa pendidikan karakter bertujuan untuk menanam nilai-nilai yang berbudi luhur kepada peserta didik yang meliputi pengetahuan, kesadaran, kemauan dan perilaku-perilaku akhlakul karimah.

Sejalan dengan pentingnya pendidikan karakter, fakta yang terjadi dalam dunia pendidikan di Indonesia adalah masih terbelenggunya sistem edukasi dengan kurikulum dan bobot angka. Banyak pendidik yang belum sadar bahwa selain pendidikan akademisi, pendidikan moral dan karakter juga sama pentingnya.

Ketika kepentingan karakter dan moral disejajarkan dengan kemampuan akademis, disitulah kemudian Presiden Joko Widodo bergerak mencanangkan program yang sejatinya disusun untuk diterapkan pada sistem pendidikan zaman sekarang.

Penguatan karakter menjadi salah satu program prioritas Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Disebutkan bahwa pemerintah akan melakukan revolusi karakter bangsa. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengimplementasikan penguatan karakter penerus bangsa melalui gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang digulirkan sejak tahun 2016.

Sesuai arahan Presiden Joko Widodo, pendidikan karakter pada jenjang pendidikan dasar mendapatkan porsi yang lebih besar dibandingkan jenjang pendidikan  di atasnya. Untuk sekolah dasar sebanyak 70 persen, sedangkan untuk sekolah menengah pertama  60 persen.

“Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter sebagai fondasi dan ruh utama pendidikan,” ujar mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy.

Baca Juga :  Pentingnya Bimbingan Konseling pada Pendidikan Dasar

Kurangnya pendidikan karakter menimbulkan sikap yang kurang baik untuk masyarakat Indonesia. Dapat kita ambil contoh kasus korupsi di Indonesia terus meningkat disetiap tahunnya. Kasus korupsi yang telah diusut oleh Mahkamah Agung (MA) dari 2014-2015 sebanyak 803 kasus. Jumlah ini meningkat jauh dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Hasil penelitian Laboratorium Ilmu Ekonomi, Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Gajah Mada, mengungkapkan bahwa 803 kasus tersebut telah menjerat sebanyak 967 terdakwa korupsi.

Data di atas menunjukkan kurangnya pendidikan karakter di Indonesia. Pendidikan di negara Indonesia pada umumnya lebih mengutamakan pendidikan formal. Padahal, pendidikan moral atau karakter juga diperlukan untuk perkembangan sebuah negara. Seharusnya, antara pendidikan formal akademik dengan pendidikan karakter berjalan bersamaan agar tercipta keseimbangan.

Kondisi lapangan lainnya juga membuktikan bahwa pendidikan karakter di Indonesia dewasa ini tidak efektif. Maraknya kasus bullying dan kasus-kasus serupa lainnya yang dilakukan oleh pelajar-pelajar dibawah umur menjadi tamparan keras untuk pemerintah dan akademisi-akademisi di Indonesia.

Seharusnya, agar pendidikan karakter bisa berjalan dengan efektif diperlukan pendekatan yang sungguh-sungguh dan proaktif serta benar-benar menunjukkan nilai-nilai inti dari moral dan etika yang baik itu sendiri.

Di samping itu, sekolah sebagai wadah dari pendidikan karakter harus menjadi komunitas yang peduli pada siswa-siswinya. Dengan terbangunnya hubungan yang baik antar siswa satu sama lain, antar guru dengan guru, antar guru dengan siswa, antar staf dengan guru, dan antar staf dengan siswa. Hubungan baik ini nantinya akan membangkitkan niat baik dari kedua belah pihak. Tidak akan ada lagi kasus perundungan antar siswa, tidak akan ada lagi kasus siswa bunuh diri karena kurangnya kepekaan guru terhadap kondisi siswanya di sekolah. Semua masalah-masalah terkait moral siswa akan teratasi jika pendidikan karakter di Indonesia berjalan dengan baik.

Baca Juga :  Membangun Harapan Menggapai Impian

Cara lain agar pendidikan karakter dapat berjalan dengan efektif adalah dengan cara menyediakan peluang bagi para siswa untuk melakukan tindakan bermoral. Untuk mengembangkan karakter yang baik, maka diperlukan kesempatan yang cukup untuk menerapkan berbagai nilai positif yang diajarkan. Misalnya, bagaimana cara bermusyawarah untuk mencapai mufakat, bagaimana cara meminimalisir pertengkaran, bagaimana cara bertanggungjawab dalam tugas yang diberikan perkelompok, dan lain sebagainya.

Sayangnya, masih banyak sekolah-sekolah yang lebih mengutamakan angka daripada karakter dari para muridnya. Walaupun semua sekolah menggembor-gemborkan bahwa penilaian terbesar diambil dari penilaian sikap, faktanya, yang lebih dihargai dan dipandang tinggi ada nilai seseorang dari sisi akademik. Di sisi lain, meskipun penilaian sikap memang diambil sebagai penilaian terbesar yang menentukan dalam rapot siswa, fakta lainnya, sekolah tersebut tidak memiliki kemampuan untuk membangun pendidikan karakter yang benar-benar efektif.

Pada hakikatnya, pendidikan karakter atau pendidikan moral bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan yang mengarah pada pencapaian akhlak mulia peserta didik. Melalui upaya pembentukan karakter ini diharapkan agar membentuk peserta didik yang tidak hanya cerdas dalam akademik tetapi juga cerdas dalam bersikap dan bertindak.

Tidak dipungkiri, masalah-masalah terbesar di Indonesia sampai saat ini masih menyangkut soal moral dan etika. Pemerintah seharusnya segera mengatasi masalah ini, agar kelak tercipta generasi penerus bangsa yang berkualitas, dan membuat negara Indonesia menjadi negara yang maju dan terpandang. Via Rizqi Dwiyanti

Tags: