Peran Pendidik Dalam Pembentukan Karakter Siswa

Pendidikan mengemban peranan yang begitu penting dalam kemajuan negeri ini. Pendidikan merupakan kunci dalam mencerdaskan generasi bangsa. Jika masyarakat memiliki pendidikan yang lebih baik, maka kita tidak akan diremehkan oleh orang lain, bahkan oleh negara lain. Pendidikan merupakan bekal utama dalam kehidupan. Dengan pendidikan kita dapat membedakan antara kebaikan dan keburukan, juga membedakan yang boleh dikerjakan dan yang tidak boleh dikerjakan.

Pendidikan mengemban peranan yang begitu penting dalam kemajuan negeri ini. Pendidikan merupakan kunci dalam mencerdaskan generasi bangsa. Jika masyarakat memiliki pendidikan yang lebih baik, maka kita tidak akan diremehkan oleh orang lain, bahkan oleh negara lain. Pendidikan merupakan bekal utama dalam kehidupan. Dengan pendidikan kita dapat membedakan antara kebaikan dan keburukan, juga membedakan yang boleh dikerjakan dan yang tidak boleh dikerjakan.

Menurut UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Lalu siapakah yang mendidik semua siswa untuk dapat mencapai tujuan dari pendidikan tersebut? Orang itu tidak lain adalah seorang guru, mereka semua adalah para pahlawan tanpa tanda jasa yang mengorbankan waktu, tenaga dan pikirannya untuk membentuk pola pikir dan kepribadian siswa supaya tujuan pendidikan itu terwujud dan melahirkan putra-putri bangsa Indonesia yang kelak akan melanjutkan cita-cita dan tujuan negara ini. Guru adalah orang tua kedua bagi anak didiknya. Guru harus bisa berperan ganda menjadi seorang guru dan menjadi orang tua bagi anak didiknya. Guru tak hanya memiliki tugas mencerdaskan kehidupan bangsa tetapi seorang guru harus mampu menciptakan siswa-siswi yang berkarakter. Guru harus menanamkan dan menumbuhkan moral serta akidah yang kuat terhadap anak didiknya.

Bahkan menurut UU No. 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen, bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Lantas bagaimana seharusnya sikap seorang siswa pada guru yang telah mendidiknya tiap hari? Ternyata jauh dari sikap dan etika yang mengedepankan moral, jangankan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, terkadang menunjukkan sikap sopan dan santun pun saat ini seakan sulit untuk dimiliki semua siswa.

Akan tetapi, keadaan pendidikan saat ini bisa dikatakan sangat memprihatinkan, dimana moral dan sopan santun siswa masih rendah. Banyak dari para pelajar yang suka tawuran dengan sesama pelajar, tindak kekerasan, bahkan mereka tidak lagi memliki rasa malu berpegangan tangan dengan lawan jenisnya di tempat umum. Hal ini didasari karena kurangnya moral serta akidah para pelajar.

Baca Juga :  Fungsi Filsafat Ilmu dalam Pengembangan Pendidikan

Banyak yang menjadi faktor yang mempengaruhi krisis moral pelajar saat ini, salah satunya adalah adalah peranan gawai dan kurangnya interaksi anak dengan orang tua. Dengan gawai, para pelajar bebas berselancar di dunia maya dan mencari hal-hal yang dinginkan, rasa sosialisasi terhadap hal-hal disekitar menjadi berkurang diakibatkan mereka terlalu sibuk dengan mengurus gadget hingga tak peduli kepada lingkungan sekitarnya. Dalam hal ini, peranan orang tua dan guru sangat menentukan moral serta sopan santun para siswa, orang tua bisa melakukan pendekatan-pendekatan terhadap anaknya bahkan orang tua bisa berperan sebagai sahabat dari anaknya tersebut. Dengan demikian, anak akan merasa diperhatikan dan gampang menyampaikan keluhan yang yang dialaminya saat itu.

Akhir-akhir ini kita mengetahui telah terjadi berbagai peristiwa yang melibatkan siswa dan guru di sekolah. Masih segar di ingatan kita seorang siswa SMA di Sampang yang menganiaya gurunya hingga meninggal karena tidak terima ia ditegur saat belajar ataupun seorang siswa MTs di Purbalingga yang menantang kepala sekolanya untuk berkelahi karena ia tidak mau menerima hukuman terkait ulahnya membolos sekolah. Kedua peristiwa tadi menunjukkan belum terbentuknya perilaku menghargai dan menghormati serta sikap mau menerima nasihat orang lain pada siswa. Memang tidak semua siswa berperilaku buruk seperti itu tetapi beberapa peristiwa yang terjadi menunjukkan bahwa sikap beberapa siswa mencerminkan ia belum memiliki etika dan moral yang baik.

Salahkah metode pembelajaran seorang guru yang selama ini diterapkan pada siswa sehingga mereka tidak mampu menunjukkan perilaku yang beretika dan bermoral? Sungguh semuanya tidak dapat dibebankan kepada tanggung jawab guru saja karena tugas guru mendidik dan mengawasi peserta didik hanya di ruang lingkup sekolah saja dan banyak waktu dari siswa dihabiskan di rumah atau lingkungan permainannya. Kondisi rumah yang tidak harmonis, lingkungan tempat tinggal yang sering terjadi konflik dan tidak kondusif bahkan peran media masa yang sangat berkembang pesat di era globalisasi sekarang ini dapat mempengaruhi pola pikir seorang siswa yang rentan untuk mengekspresikan ego dan nafsunya.

Kita tidak dapat memungkiri dari media masa seorang siswa dapat menemukan konten-konten kekerasan yang tentunya akan berpengaruh pada perilakunya. Games dan film sangat berpengaruh dalam kepribadian seorang siswa. Melihat semua realita yang terjadi pada sekarang ini yang dialami siswa maka dapat dikatakan telah terjadi degradasi etika dan moral, lalu mengapa peristiwa kekerasan pada guru masih saja terjadi dan mungkinkah untuk zaman sekarang pendidikan formal yang mengedepankan ajaran yang menitikberatkan pada perubahan sikap dan perilaku siswa dengan cara teguran dan hukuman seolah hanya angin lalu dan tak berarti ketika pola pikir dan perilaku seorang siswa telah teracuni oleh perilaku buruk yang bersumber dari lingkungan, stimulus ataupun tontonan yang nyatanya semakin menunjukkan contoh-contoh dari degradasi etika dan moral.

Baca Juga :  Game dalam Pendidikan Anak Usia Dini

Tugas sekolah dan guru benar-benar akan sangat diuji untuk dapat menyelesaikan masalah etika dan moral siswa dan akan sangat memprihatinkan ketika nasihat, teguran ataupun hukuman yang diberikan kepada siswa untuk mengubah perilakunya malah kemudian menjadi bumerang kepada guru yang sebenarnya hanya bermaksud untuk menjalankan tugasnya dan membantu siswa menjadi orang yang lebih baik. Maka diperlukan cara dan metode yang baru untuk diterapkan dalam mendidik, mengatur dan mengubah perilaku siswa supaya etika dan moralnya tidak tergerus oleh kerasnya pengaruh zaman yang semakin membutakan pikiran dan menutup pintu hati.

Seorang guru harus memberi contoh yang baik bagi para siswa dalam mewujudkan perilaku siswa yang berkarakte. Oleh sebab itu, bukan hanya seorang siswa yang dituntut memiliki moral dan akidah yang baik seorang guru sekalipun harus memiliki moral serta akidah yang baik sehingga siswa dapat mengambil contoh dari seorang guru tersebut. Apapun yang dilakukan oleh seorang guru akan terekam dalam ingatan siswa. Seperti  pepatah yang mengatkan “guru kencing berdiri, murid kencing berlari” didalam pepatah ini kita dapat mengambil kesimpulan apabila kita memberikan contoh yang tidak baik terhadap anak didik kita maka jangan heran jika suatu saat nanti siswa kita akan melakukan hal yang lebih parah dari kita. Maka dari itu seorang guru harus mampu memberikan contoh yang baik bagi peserta didiknya.

Tapi bukan hanya seorang murid yang mengalami krisis moral. Bahkan pada saat ini ada seorang guru yang memiliki krisis moral dan akidah. Seorang guru ini tega mencabuli sisiwinya, sangatlah miris. Sangatlah tidak pantas dicontoh guru yang seperti ini. Yang tidak memegang teguh etika sebagai pendidik bagi anak didiknya. Bukannya mencerdaskan generasi penerus bangsa, malah merusak generasi dan masa depan anak didik. Guru seperti inilah yang dikatakan krisis moral dan akidah. Entah apa yang mendasari seorang guru sehingga tega berbuat sekeji itu, tak lain dan tak bukan karena krisis moral serta akidah dari seorang guru tersebut serta kurangnya menghayati tugas dan tanggung jawab sebagai seorang pendidik yang mulia. Guru yang baik tidak seharusnya melakukan hal-hal seperti demikian. Kita merupakan contoh bagi mereka, maka berilah contoh yang baik agar anak didik kita dapat mengambil contoh dari gerak-gerik, tutur kata, serta tingkah laku kita. Murid yang berkarakter adalah hasil dari guru yang hebat.

Baca Juga :  Pentingnya Literasi Keluarga dalam Sekolah

Sebagai seorang guru atau pendidik kita harus membekali diri dengan niat tulus dan keikhlasan supaya menjadikan anak didik kita menjadi generasi penerus bangsa yang hebat serta berkarakter. Bukan itu saja guru juga harus membekali diri dengan kreatifitas yang tinggi dan kompetensi yang cukup. Sifat ikhlas inilah yang jarang dimiliki oleh seorang guru. Banyak diantara mereka merasa apa yang mereka sampaikan tidak setimpal dengan gaji yang mereka dapatkan, sehingga akibatnya ketika mereka berada di dalam kelas mereka tidak melakukan tugas dengan sepenuh hati. Kadang mereka menyampaikan materi tidak sepenuhnya alhasil materi ini disambung ketika les. Pada les inilah yang diharapkan nanti oleh para guru untuk mendapatkan uang atau gaji tambahan. Namun tidak semua guru seperti demikian. Ini semua terjadi karena guru melupakan aspek ikhlas. Andaikan saja guru ikhlas mengajar, maka keihklasan ini akan memberikan semangat tanpa batas pada guru untuk berusaha keras membuat anak didik mereka paham akan materi yang disampaikan. Semangat keikhlasan ini akan mampu meluluhkan hati dan jiwa keras anak didik kita.

Menjadi guru hebat ini menjadi tugas utama kita, menanamkan sifat ikhlas serta niat yang tulus dalam mendidik generasi penerus bangsa, seorang siswa bukanlah semata-mata mereka yang bertatapan muka dengan kita setiap harinya, melainkan mereka adalah ladang surga bagi kita nantinya, ilmu yang kita sampaikan kepada mereka akan tertanam dan selalu diingat oleh mereka, suatu saat nanti ketika mereka beranjak dewasa dan menjadi seorang guru seperti kita, ilmu yang pernah mereka dapatkan dari kita akan samapi ke anak didik mereka samapi seterusnya, itulah ilmu tanpa ada habisnnya selalu mengalir seperti air, sungguh mulia tugas menjadi seorang guru, berbanggalah kita sebagai guru hebat yang melahirkan murid-murid berkaraketer.

Murid yang berkarakter didasari dengan lingkungan yang hebat. Ada peranan orang tua, guru serta masyarakat dan pemerintah. Anak-anak harus ditanamkan pendidikan moral serta akidah yang bagus sejak dini, agar mereka bisa membedakan antara suatu kebaikan dan keburukan, seorang guru tidak akan mampu menciptakan siswa yang berkarakter dengan sendrinya, orang tua dan guru harus bekerja sama dalam pendidkan karakter anak yang hebat. Dengan adanya kerjasama yang baik antara guru, orang tua, masyarakat dan pemerintah maka saya yakin, tidak ada anak Indonesia yang akan mengalami kegagalan dan krisis moral. Yang ada hanyalah murid berkarater,berprestasi,budiman,bermoral serta berakhlak mulia membawa nama baik bangasa Indonesia. Muhammad Falih Winardi

Tags: