Kajian Historis Pendidikan Islam

Pendidikan Islam mempunyai sejarah yang panjang. Pendidikan Islam berkembang seiring kemunculan Islam itu sendiri. Pendidikan Islam terjadi sejak Nabi Muhammad diangkat menjadi Rasul Allah di Mekkah dan beliau sendiri sebagai gurunya. Pendidikan masa ini  merupakan proto type yang terus menerus dikembangkan oleh umat Islam untuk kepentingan pendidikan pada zamannya. Pendidikan Islam mulai dilaksanakan Rosulullah setelah mendapat perintah dari Allah agar beliau menyeru kepada Allah, sebagimana yang termaktub dalam AlQuran.

Kajian Historis Pendidikan Islam

Menyeru berarti mengajak, mengajak berarti mendidik. Langkah awal Nabi tempuh adalah menyerukan keluarganya terlebih dahulu,  pertama, Nabi menyeru kepada istrinya, Khadijah, untuk beriman dan menerima petunjuk-petunjuk Allah, kemudian diikuti oleh Ali bin Abi Thalib, anak pamannya, yang diangkat menjadi anak angkatnya, dan Zaid bin Harits, seorang pembantu rumah tangganya, yang kemudian dijadikan anak angkat. Setelah itu, Nabi mulai mengajak sahabat-sahabatnya, demikian seterusnya.

Dalam konteks masyarakat Arab, di mana Islam lahir dan pertama kali berkembang, kedatangan Islam lengkap dengan usaha-usaha pendidikan, hal ini merupakan transformasi besar, sebab masyarakat Arab pra Islam pada dasarnya tidak mempunyai sistem pendidikan formal. Pada awal perkembangan Islam, tentu saja pendidikan formal yang sistematis belum terselenggara. Pendidikan yang berlangsung dapat dikatakan umumnya bersifat informal, dan inipun lebih berkaitan dengan dakwah – dakwah islamiyah – penyebaran dan penanaman dasar-dasar kepercayaan dan ibadah Islam.

Dalam kaitan itulah bisa dipahami mengapa proses pendidikan Islam pertama kali berlangsung di rumah Arqam di Bukit Shafa. Rumah Arqam dipilih sebagai tempat berkumpulnya umat Islam untuk menerima pelajaran dari Nabi, karena Arqam adalah sahabat Nabi yang setia sekaligus lokasi rumahnya yang sangat baik, terhadang dari penglihatan kaum Quraisy. Pendidikan pertama yang dilakukan Nabi adalah membina pribadi Muslim agar menjadi kader-kader yang berjiwa kuat dan tangguh dari segala cobaan untuk dipersiapkan menjadi masyarakat Islam dan mubaligh serta pendidik yang baik Ketika masyarakat Islam sudah terbentuk, maka pendidikan diselenggarakan di masjid-masjid dan musholla. Proses pendidikan ini dilakukan dalam halaqah, lingkaran belajar.

Pada masa awal lahirnya Islam, umat Islam belum memiliki budaya membaca dan menulis. Bagi masyarakat Arab, budaya membaca dan menulis hanya berkembang di kalangan kaum Yahudi dan Narani. Orang-orang Arab selain  Yahudi dan Nasrani yang bisa membaca dan menulis jumlahnya sangat sedikit. Pada masa Nabi menyiarkan agama di Mekkah, di kalangan kaum Quraisy ada 17 orang yang pandai baca-tulis setelah perang Badar, ada beberap tawanan yang pandai membaca dan menulis. Para tawanan ini dapat menebus dirinya dengan mengajarkan baca-tulis kepada 10 anak muslim untuk seorang tawanan. Menurut Syalabi dalam bukunya Hanun Asrohah, lembaga untuk belajar membaca dan menulis ini disebut Kuttab, lembaga pendidikan ini dibentuk setelah mesjid.   

Baca Juga :  Pengertian Penilaian Acuan Norma (PAN) Penilaian Acuan Patokan (PAP)

Pada masa Nabi, pendidikan Islam berpusat di Madinah. Setelah Rasulullah wafat, kekuasaan pemerintahan Islam secara bergantian dipegang oleh Abu Bakar, Umar Ibn Khattab, Usman Ibn Affan, dan Ali Ibn Abi Thalib. Pelaksanaannya tidak jauh berbeda dengan masa Nabi, yang menekankan pada pengajaran baca tulis dan ajaran – ajaran Islam yang bersumber pada Al Quran dan Hadits Nabi. Hal ini disebabkan oleh konsentrasi umat Islam terhadap perluasan wilayah Islam dan terjadinya pergolakan politik, khususnya di masa Ali Ibn Abi Thalib.

Setelah Dinasti Umayyah berkuasa, pelaksanaan pendidikan Islam semakin meningkat daripada masa sebelumnya. Kalau pada masa sebelumnya pendidikan Islam dilaksanakan di Kuttab, di rumah-rumah, di masjid, pada masa ini pendidikan Islam juga dilaksanakan di Istana untuk mendidik anak-anak keluarga kerajaan.

Pada masa ini juga mulai ada perhatian terhadap pembidangan ilmu tafsir, hadits fiqih, dan ilmu kalam. Usaha ini kemudian dilajutkan oleh Dinasti Abbasiyyah, perhatian terhadap pendidikan Islam sangat besar dibandingkan dengan masa Dinasti Umayyah, sehingga berkembanglah karya – karya pemikiran di berbagai bidang, walaupun perhatian pendidikan dan perkembangan pemikiran tidak sebesar pada masa Dinasti Abbasiyyah, usaha-usaha umat Islam pada masa Dinasti Umayyah sangat besar dan penting sekali pengaruhnya bagi perkembangan pendidikan dan pemikiran pada masa sesudahnya.

Walaupun kecil, Dinasti Umayyah  telah meletakkan dasar – dasar bagi kemajuan pendidikan dan pemikiran. Karena usahanya inilah,  masa Dinasti Umayyah adalah “Inkubasi” atau masa tuntas bagi perkembangan intelektual Islam dalam memperjuangkan eksistensi pendidikan Islam.

Tags: