Manajemen Pendidikan MI

Istilah manajemen berasal dari bahasa inggris yaitu dari kata to manage yang berarti mengurus, mengatur, melaksanakan, mengelola dan memperlakukan. Dalam Islam, terdapat pengertian yang sama adalah al-tadbir (pengaturan). Kata ini merupakan derivasi dari kata dabbara (mengatur) yang banyak terdapat dalam al qur’an seperti firman Allah SWT  yang artinya Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu[1190]

Manajemen Pendidikan MI

[1190] Maksud urusan itu naik kepadanya ialah beritanya yang dibawa oleh malaikat. ayat ini suatu tamsil bagi kebesaran Allah dan keagunganNya.

Ayat diatas menjelaskan bahwa Allah SWT adalah pengatur alam (manager). Keteraturan alam raya ini  merupakan bukti kebesaran Allah SWT dalam mengelola alam semesta.akan tetapi dalam konteks ini Allah telah menciptakan manusia dan dijadikan sebagai khalifah (pemimpin) di bumi. Maka, manusia diberikan tugas dan tanggungjawab untuk mengatur dan mengelola bumi dengan sebaik – baiknya sebagaimana Allah mengatur alam raya beserta isinya ini. Ajaran Islam memerintahkan kepada umatnya untuk dapat mengerjakan segala aktivitas yang baik harus dilakukan secara rapi, benar, tertib, dan teratur sesuai dengan proses yang diperintahkan.

G.R. Terry (1986) –sebagaimana dikutip Malayu S.P Hasibuan (1996)- memandang manajemen sebagai suatu proses, sebagai berikut: “Management is a distinct process consisting of planning, organizing, actuating and controlling performed to determine and accomplish stated objectives by the use of human being and other resources”. Sementara, Malayu S.P. Hasibuan (1995) dalam bukunya “Manajemen Sumber Daya Manusia” mengemukakan bahwa manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan tertentu.

Manajemen kemudian diartikan sebagai suatu rentetan langkah yang terpadu untuk mengembangkan suatu organisasi sebagai suatu system yang bersifat sosio-ekonomi-teknis; dimana system adalah suatu kesatuan dinamis yang terdiri dari bagian-bagian yang berhubungan secara organik; dinamis berarti bergerak, berkembang ke arah suatu tujuan; sosio (social) berarti yang bergerak di dalam dan yang menggerakkan sistem itu adalah manusia; ekonomi berarti kegiatan dalam sistem bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia; dan teknis berarti dalam kegiatan dipakai harta, alat-alat dan cara-cara tertentu.

Baca Juga :  Strategi Guru Dalam Menanamkan Sikap Religius Dalam Pelajaran

Dengan demikian, manajemen merupakan kebutuhan yang niscaya untuk memudahkan pencapaian tujuan manusia dalam organisasi, serta mengelola berbagai sumberdaya organisasi, seperti sarana dan prasarana, waktu, SDM, metode dan lainnya secara efektif, inovatif, kreatif, solutif, dan efisien.Madrasah Ibtidaiyah sebagai bagian dari penyelenggara  pendidikan nasional saat ini dituntut untuk mampu melakukan penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan standar nasional pendidikan yang dirumuskan oleh pemerintah. Standarisasi yang dimaksud menurut PP  nomor 19 tahun 2005 meliputi standar pendidik tenaga kependidikan, standar proses, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar kompetensi lulusan dan standar penilaian. Pengelolaan pendidikan mengalami perubahan paradigma dari sentralisasi ke desentralisasi wujud nyata dari perubahan itu ialah lahirnya dua UU yaitu UU nomor 22 tahun 1999 tentang otonomi daerah  dan UU nomor 25 tahun 1999 tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah pada hakikatnya memberikan kewenangan dan keleluasaan pada daerah untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan UU. Kewenangan diberikan kepada daerah kabupaten dan kota berdasarkan asas desentraalisasi dalam wujud otonomi luas, nyata dan bertanggung jawab.

Dalam rangka otonomi daerah sekaligus desentralisasi pendidikan maka pendidikan madrasah berusaha untuk mengintegrasikan diri dalam kebijakan ini. Meskipun sampai saat ini belum ada kebijakan yang mengikat mengenai posisi madrasah dalam kerangka otonomi daerah namun dengan surat menteri agama yang dikirimkan kepada menteri dalam negeri dan otonomi daerah, No. MA/402/2000 mengenai kewenangan penyelenggaraan pendidikan agama pada sekolah umum dan penyelenggaraan madrasah yang diserahkan kepada daerah kabupaten/kota sesuai azaz  desentralisasi daerah, maka posisi madrasah semakin jelas pemecahannya walaupun diakui bahwa permasalahan tersebut belum sepenuhnya dapat diselesaikan.

Baca Juga :  Konsep Manajemen Tenaga Pendidik dan Kependidikan

Pengelolaan pendidikan pada madrasah mempunyai tiga pendekatan yaitu;Pertamasecara simbolik kita akan dapat membedakan di madrasah para siswi memakai jilbab dan siswa memakai celana panajang begitu juga dengan gurunya. Kedua secaara subtansial ialah pendidikan madrasah merupakan sekolah umum yang berciri khas Islam dengan mata pelajaran al-Qur’an hadits, Fiqih, Akidah Akhlak, Sejarah kebudayaan Islam, dan bahasa arab dan suasana keagamaan Islam yang berupa suasana madrasah yang agamis adanya sarana ibadah, metode pendekatan yang agamis  dalam penyajian materi pembelajaran dan berakhlak mualia, dalam rangka mengarahkan, membimbing, membina dan melahirkan pendidikan madrasah yang  qualified mampu mengembangkan kognitif, akfektif dan psikomotor, disamping memenuhi pengajar berdasarkan ketentuan yang berlaku.KetigaSecara Institusional Madrasah yang khususnya Negeri berada dibawah naungan Kementerian Agama. Madrasah merupakan satuan pendidikan seperti didalam pasal 51 UU nomor 20 tahun 2003 dijelaskan bahwa pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini, dasar dan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen sekolah/madrasah.

Sehingga manajemen pendidikan madrasah ibtidaiyah dapat diartikan suatu kegiatan berupa proses pengelolaan usaha kerjasama sekelompok manusia yang tergabung dalam organisasi pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan dengan pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber – sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan tertentu pada pelaksanaan pendidikan di madrasah ibtidaiyah.

Tags: