Manajemen Kelas

Kelas dapat diartikan sebagai kegiatan belajar yang diberikan oleh guru dalam suatu tempat, ruangan, tingkat, dan waktu tertentu. Berkaitan dengan manajemen kelas, ada beberapa pandangan yang dapat dijadikan sebagai rujukan dalam mengelola kelas.

  1. Pandangan otoriter, menyatakan bahwa pengelolaan kelas adalah proses mengontrol tingkah laku siswa yang bersifat otoritatif sebagai aktivitas guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas.
  2. Pandangan permisif yang memberikan kebebasan pada peserta didik untuk berbuat apa saja yang dinginkannya dan merupakan seperangkat aktivitas guru dalam mengoptimalkan kebebasan peserta didik.
  3. Pandangan tingkah laku yang didasarkan pada prinsip-prinsip perubahan tingkah laku yang menyatakan bahwa pengelolaan kelas adalah pengubahan tingkah laku peserta didik yang dikehendaki oleh tujuan belajar berdasarkan penerapan prinsip-prinsip yang diambil dari teori penguatan, sehingga manajemen kelas dapat didefinisikan sebagai seperangkat aktivitas pengajar untuk mengembangkan perilaku siswa yang diinginkan, dan mengurangi atau meniadakan perilaku siswa yang tidak diinginkan.
  4. Pandangan hubungan interpersonal yang menyatakan bahwa pengelolaan kelas merupakan proses penciptaan iklim sosio-emosiomal yang positif di dalam kelas.
  5. Pandangan sistem sosial/kelompok menyatakan bahwa kelas merupakaan sistem sosial dengan proses kelompok (group process) sebagai intinya.[1]

Pandangan pertama dan kedua menunjukkan pada pengertian yang cukup ekstrem. Oleh karena itu, kedua pandangan tersebut dianggap tidak sesuai lagi karena saling kontradiktif dan tidak relevan dengan pendidikan di Indonesia. Hal ini berbeda dengan tiga pandangan yang terakhir (pengubahan tingkah laku, hubungan interpersonal, dan sistem sosial/kelompok) karena pandangan ini memiliki muatan filosofis maupun praktis.

Oleh karena itu, ketiga pandangan ini dapat diterima sebagai pandangan pluralistik yang menegaskan bahwa manejemen kelas merupakan seperangkat perilaku guru untuk mengembangkan perilaku siswa yang diinginkan, mengembangkan hubungan interpersonal dan iklim sosio-emosional yang positif serta mengembangkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif dan produktif. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa manajemen kelas adalah proses atau upaya yang dilaksanakan oleh seorang guru secara sistematis untuk menciptakan atau mewujudkan kondisi kelas yang dinamis dan kondusif dalam upaya menciptakan pembelajaran yang efektif dan efisien.

Baca Juga :  Contoh Prosedur Pemilihan Media dan Sumber belajar

Dalam upaya menciptakan suasana kelas yang kondusif dalam proses pembelajaran, seorang guru harus memahami dan dapat memilih pendekatan yang tepat sehingga tujuan pembelajaran dapa tercapai dengan baik. Di bawah ini diuraikan beberapa pendekatan pengelolaan kelas sebagai berikut.

  1. Pendekatan Perubahan Perilaku (Behavior Modification Approach). Pendekatan ini didasarkan pada psikologi behavior yang mengemukakan asumsi bahwa (1) semua tingkah laku yang baik dan “kurang baik” merupakan hasil proses belajar, dan (2) ada sejumlah kecil proses psikologi fundamental yang dapat digunakan dalam menjelaskan terjadinya proses belajar yang dimaksud. Proses psikologi berkaitan erat dengan penguatan positif (positive reinforcement), hukuman, penghapusan (extinction), dan penguatan negatif (negative reinforcement). Dalam upaya membina tingkah laku yang dikehendaki, guru harus memberikan penguatan positif (memberikan stimulus positif sebagai ganjaran) atau penguatan negatif (menghilangkan hukuman, suatu stimulus negatif), penghapusan (pembatalan pemberian ganjaran yang sebenarnya diharapkan oleh siswa) atau time out (membatalkan kesempatan peserta didik untuk memperoleh ganjaran, baik yang berupa barang maupun berupa kegiatan yang disenanginya).
  2. Pendekatan Iklim Sosio-Emosional (Socio-Emotional Climate Approach). Dasar pendekatan ini adalah psikologi klinis dan konseling. Asumsinya adalah proses belajar mengajar yang efektif mempersyaratkan iklim sosio-emosional yang baik, terdapat hubungan interpersonal yang baik antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Guru menduduki posisi penting bagi terciptanya iklim sosio-emosional yang baik.
  3. Pendekatan Proses Kelompok (Group Processes Approach). Dasar pendekatan ini adalah psikologi sosial dan dinamika kelompok. Asumsinya adalah pengalaman belajar yang diperoleh di sekolah berlangsung dalam konteks kelompok sosial. Kelas dipandang sebagai sistem sosial sehingga guru harus dapat membina dan memelihara kelompok yang produktif dan kohesif.[2]
Baca Juga :  Living Qur’an Definisi dan Ragam Perspektif

Tiga pendekatan di atas perlu dipahami dan dikuasai oleh guru demi pengelolaan kelas secara baik. Pendekatan-pendekatan tersebut dalam realisasinya perlu digabungkan dengan mempertimbangkan kondisi kelas, karakteristik siswa, dan materi pembelajaran yang akan diajarkan. Pendekatan perubahan tingkah laku dapat dipilih jika tujuan pengelolaan kelas adalah menguatkan tingkah laku peserta didik yang positif dan mengubah perilaku peserta didik yang negatif. Pendekatan penciptaan iklim sosio-emosional dapat dipergunakan apabila sasaran tindakan pengelolaan kelas adalah peningkatan hubungan antarpribadi, yaitu guru dengan siswa dan siswa dengan siswa.

Sementara pendekatan proses kelompok dapat dijalankan jika seorang guru ingin membangun kebersamaan dalam menghasilkan kinerja yang produktif. Tiga pendekatan tersebut dapat dilaksanakan dalam satu situasi pembelajaran. Hal ini sebagai upaya untuk memaksimalkan proses belajar mengajar, menghindari kebosanan, dan menciptakan iklim kelas yang kondusif.

Tags: