Pengertian Aqidah Atau Tauhid

Perkataan tauhid berasal dari bahasab arab yaitu, وَهَّدَ  (Wahhada) يُوَهِدُ (yuwahhidu). Secara etimologis, tauhid berarti keesaan. Maksudnya itikad atau keyakinan bahwa Allah swt adalah esa, tunggal, satu. Dan secara terminologi tauhid berarti “keesaan Allah”; mentauhidkan berarti mengakui keesaan Allah; mengesakan Allah.

Pengertian Aqidah Atau Tauhid

Secara umum tauhid dibagi menjadi 3 yaitu: tauhidrububiyah dan tauhiduluhiyahTauhid Asma Wa sifaat. Namun masalah tauhid pada dasarnya berkisar pada persoalan-persoalan yang berhubungan Allah, Rasul dan Nabi dan hal-hal yang berkenan dengan kehidupan manusia sesudah mati. Dengan kata lain ruang lingkup pembahsan dalam ilmu tauhid meliputi mabda (persoalan yang berhubungan dengan Allah), wasitah (masalah yang berkaitan dengan perantara atau penghubung antara manusia dan Tuhan) dan ma’ad (hal-hal yang berkenan dengan hari yang akan datang atau kiamat)[1].

Ilmu tauhid memiliki beberapa nama. Penamaan itu muncul sesuai dengan aspek pembahasan yang ditonjolkan oleh tokoh yang memberikan nama tersebut.

  1. Ilmu ini dinamakan ilmu tauhid karena pokok bahasannya dititikberatkan kepada keesaan Allah swt
  2. Ilmutauhid dinamakan ilmukalam karena pembahasannya mengenai eksistensi Tuhan dan hal-hal yang berhubungan dengan-Nya digunakan argumentasi-argumentasi filosofis dengan menggunakan logika
  3. Ilmutauhid dinamakan ilmuusluhuddin karena objek bahasan utamanya adalah dasar-dasar agama yang meupakan masalah esensial dalam ajaran Islam

Meskipun nama yang diberikan berbeda-beda, namun inti pembahasan ilmu tauhid adalah sama, yaitu wujud Allah swt dan hal-hal yang berkaitan dengan-Nya. Karena itu aspek penting dalam ilmu tauhid adalah keyakinan adanya Allah yang maha sempurna, maha kuasa, dan memiliki sifat-sifat kemahasempurnaan lainnya. Keyakinan yang demikian pada gilirannya akan membawa kepada pada keyakinan terhadap adanya malaikat, kitab-kitab, Nabi dan rasul, hari akhir, dan melahirkan kesadaran akan tugas dan kewajiban terhadap pencipta[2]

Akidah secara etimologi berarti ikatan, sangkutan, dan secara teknis berarti kepercayaan, iman. Pembahasan mengenai akidah Islam pada umumnya berkisar pada Arkanul Iman (Rukun Iman yang enam)[3]

Baca Juga :  Jamu untuk menangkal penyakit

Secara terminologi Akidah yaitu perkara yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa menjadi tenteram karenanya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang teguh dan kokoh, yang tidak tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan.

Abdul Qodir Djaelani menyimpulkan beberapa pendapat yang telah dikemukakan para cendekiawan muslim mengenai pengertian akidah yakni :

  1. Akidah (Iman) merupakan keyakinan dan terhujam di dalam hati, yang membuat seseorang menjadi tenang dan tentram di dalam kehidupannya; ia tidak ragu-ragu keyakinan didalam menempuh perjalanan hidupnya.
  2. Akidah secara esensi bertitik sentral pada Allah swt yang terlambang dalam kaliamat لآاِلَه اِلاَّ اللهُ (Tiada Tuhan melainkan Allah), dan petunjuk secara real tentang akidah itu hanya melalui utusan-Nya Muhammad saw, yang terlambang dalam kalimat مُحَمَّدَرَسُولُ اللهِ  (Muhammad itu Rasul Allah); dan terjabarkan secara lebih dalam Rukun Islam
  3. Akidah yang berintikan tauhid terbagi dalam dua pengertian, yaitu: tauhid rububiyah dan tayhid uluhiyah
  4. Akidah yang bertitik sentral kepada Allah swt akan membahas keesaan zat-Nya, sifat-sifat-Nya dan af’al (perbuatan-perbuatan)-Nya
  5. Akidah yang berorientasi  hanya kepada apa yang dibawa dirunjuki oleh Muhammad saw akan membahas pula tentang kerasulannya dan sifat-sifat kesempurnaannya sebagai uswatun hasanah
  6. Akidah merupakan faktor penentu apakah seorang itu akan menadi muslim atau tidak, akan memperoleh keselamatan di dunia dan di akhirat atau tidak, karena itu pembahsannya memerlukan kemurnian hati dan ketelitian dalam mengambil dalil-dalil naqal (Al-Qur’an dan Hadist) maupun dalil-dalil akal (pendapat para ulama dan cendekiawan muslim)

Karena masalah akidah ini ternyata dari perjalanan sejarah manusia, tidak bisa dicapai manusia hanya dengan semata-mata intuisi dan akalnya, tetapi harus dibimbing oleh wahyu yang dibawa oleh para rasul, maka landasan pembahasannya harus berorientasi pada dalil naqal. Dalil akal hanya berfungsi sebagai pembenaran belaka[4]

Baca Juga :  Persepsi Orang Tua Terhadap Pentingnya Pendidikan Bagi Anak

Sebagaimana dikatakan terdahulu bahwa inti dari tauhid adalah keyakinan kepada Allah swt. Tiada Tuhan selain dia, penegasan Allah swt dalam Al-Qur’an yang menyatakan bahwa Allah swt itu maha Esa antara lain QS. Al-Ikhlas: 1-4; QS. Az-Zumar: 4; QS. Al-Baqarah: 163; QS. An-Nisa: 171; QS. Al-Maidah: 73; dan QS. Al-Anbiya: 22.


[1] Yusran Asmuni, Ilmu Tauhid, cet. Ke-1 (Jakarta: Rajawali Pers, 1993), hlm. 3.

[2] Ibid, hlm. 4-5.

[3] Endang Saifuddin Anshari, Wawasan Islam (Bandung: Pustaka Salman, 1983), hlm. 24.

[4] Abdul Qodir Djaelani, Asas Dan Tujuan Hidup Manusia Menurut Ajaran Islam, cet. ke-1 (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1996), hlm. 15-16.

Tags: