Karakteristik Perkembangan dan Belajar AUD

Karakteristik Perkembangan

Awal masa anak-anak berlangsung dari usia 2-6 tahun, oleh orang tua disebut sebagai usia problematis, menyulitkan, atau main, oleh para pendidik disebut usia pra sekolah, dan oleh para ahli psikologi sebagai prakelompok, penjelajah atau usia bertanya. Pendidikan Anak Usia Dini telah banyak berkembang di masyarakat, baik yang ditumbuh kembangkan oleh instansi pemerintah maupun oleh masyarakat. Misalnya, Bina Keluarga Balita yang dikembangkan oleh BKKBN, Penitipan Anak oleh Depsos, TK oleh Depdiknas, TPA oleh Depag, dan Kelompok Bermain oleh Masyarakat. Adapun karakteristik perkembangan anak usia dini dapat dilihat sebagai berikut:

Perkembangan Fisik-Motorik

Pertumbuhan fisik pada setiap anak tidak selalu sama. Ada yang mengalami pertumbuhan secara cepat, ada pula yang lambat. Pada masa kanak-kanak pertambahan tinggi dan pertambahan berat badan relatif seimbang. Perkembangan motorik anak terdiri dari dua, ada yang kasar dan ada yang halus.

Perkembangan motorik kasar seorang anak pada usia 3 tahun adalah melakukan gerakan sederhana seperti berjingkrak, melompat, berlari ke sana kemari dan ini menunjukkan kebanggaan dan prestasi. Sedangkan usia 4 tahun, anak tetap melakukan gerakan yang sama, tetapi sudah berani mengambil resiko seperti jika anak dapat naik tangga dengan satu kaki lalu dapat turun dengan cara yang sama dan memperhatikan waktu pada setiap langkah. Lalu, pada usia 5 tahun anak lebih percaya diri dengan mencoba untuk berlomba dengan teman sebayanya atau orang tuanya.[1]

Adapun perkembangan keterampilan motorik halus dapat dilihat pada usia 3 tahun yakni kemampuan anak-anak masih terkait dengan kemampuan bayi untuk menempatkan dan memegang benda-benda. Pada usia 4 tahun, koordinasi motorik halus anak-anak telah semakin meningkat dan jauh lebih tepat seperti bermain balok, kadang sulit menyusun balok sampai tinggi sebab khawatir tidak akan sempurna susunannya. Sedangkan usia 5 tahun, mereka sudah memiliki koordinasi mata yang bagus dengan memadukan tangan, lengan, dan anggota tubuh lainnya untuk bergerak.

Baca Juga :  Jamu untuk menangkal penyakit

Perkembangan Kognitif.

Perkembangan kognitif menurut “Jean Piaget” tentang perkembangan kognitif yaitu memberikan batasan kembali tentang kecerdasan, pengetahuan dan hubungan anak didik dengan lingkungannya. Kecerdasan merupakan proses bersinambungan yang membentuk struktur yang diperlukan dalam interaksi terus menerus dengan lingkungannya. Struktur yang dibentuk oleh kecerdasan, pengetahuan sangat subjektif waktu masih bayi dan menjadi objektif dalam masa dewasa awal.

Faktor yang berpengaruh dalam perkembangan kognitif :

  1. Fisik

Interaksi antar individu dan dunia luar merupakan sumber pengetahuan baru dunia fisik itu tidak cukup untuk mengembangkan pengetahuan kecuali intelegensi individu dapat memanfaatkan pengalaman tersebut.

  • Kematangan

Kematangan sistem saraf menjadi penting karena memungkinkan anak memperoleh manfaat secara maksimum dari pengalaman fisik. Kematangan membuka kemungkinan untuk berkembang sedangkan kalau kurang hal itu akan membatasi secara luas prstasi secara kognitif.

  • Pengaruh sosial

Lingkungan sosial termasuk peran bahasa dan pendidikan, pengalaman fisik dapat memacu atau menghambat perkembangan kognitifnya.

Perkembangan Sosial Emosional

Perkembangan dapat diartikan dengan serangkaian perubahan-perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Perkembangan (development) menitik beratkan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramaikan, sebagai hasil dari proses pematangan. Hal ini menyangkut adanya proses diferensisasi dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh dan organ –organ dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat menjalankan fungsinya. Jadi perkembangan bukan sekedar penambahan beberapa sentimeter pada tinggi badan seseorang atau peningkatan kemampuan seseorang melainkan suatu proses intregasi dari banyak struktur dan fungsi yang komplek.

Menurut Suyadi (2010:108) Perkembangan sosial adalah tingkat jalinan interaksi anak dengan orang lain mulai dari orang tua, saudara, teman bermain, hingga masyarakat secara luas. Sementara perkembangan emosional adalah luapan perasaan ketika anak berinteraksi dengan orang lain. Dengan demikian perkembangan sosial emosional adalah kepekaan anak untuk memahami perasaan orang lain ketika berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga :  Pentingnya Bimbingan Konseling pada Pendidikan Dasar

Perkembangan sosial pada anak ditandai dengan kemampuan anak untuk beradaptasi dengan lingkungan, menjalin pertemanan yang melibatkan emosi, pikiran dan perilakunya. Perkembangan sosial adalah proses dimana anak mengembangkan keterampilan interpersonalnya, belajar menjalin persahabatan, meningkatkan pemahamannya tentang orang diluar dirinya juga belajar penalaran moral dan perilaku. Perkembangan emosi berkaitan dengan cara anak memahami, mengekspresikan dan belajar mengendalikan emosinya seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan anak.

Perkembangan Bahasa

Kemampuan setiap orang dalam berbahasa berbeda-beda. Ada yang berkualitas baik dan ada yang rendah. Perkembangan ini mulai sejak awal kehidupan. Sampai anak berusia 5 bulan (0-1 tahun) seorang anak akan mengoceh seperti orang yang sedang berbicara dengan rangkaian suara yang teratur, walaupun suara dikeluarkan ketika berusia 2 bulan. Di sini terjadi penerimaan percakapan dan diskriminasi suara percakapan. Ocehan dimulai untuk menyusun dasar bahasa.

Lalu pada usia satu tahun anak dapat menyebut 1 kata. Kemudian usia 18-24 bulan, anak mengalami percepatan kata dengan memproduksi kalimat dua atau tiga kata disebut periode telegrafik sebab menghilangkan tanda atau bagian kecil tata bahasa dan mengabaikan kata yang kurang penting.

Selanjutnya pada usia 2,5 sampai dengan 5 tahun, pengucapan kata meningkat. Bahasa anak mirip orang dewasa. Anak mulai memproduksi ujaran yang lebih panjang, kadang secara gramatik, kadang tidak. Lalu, pada usia 6 tahun ke atas, anak mengucapkan kata seperti orang dewasa.

Sementara faktor-faktor yang mempengaruhi banyaknya anak berbicara, antara lain:

  1. Intelegasi, semakin cerdas anak semakin cepat keterampilan bicaranya.
  2. Jenis disiplin, disiplin yang rendah membuat cenderung cepat bicara dibanding dengan anak yang orang tuanya bersikap keras dan berpandang bahwa anak harus dilihat, tetapi tidak didengar.
  3. Posisi urutan, anak sulung didorong lebih banyak bicara dari pada adiknya.
  4. Besarnya keluarga, anak tunggal didorong lebih banyak bicara dibanding anak-anak dari keluarga besar sebab orang tua lebih banyak waktu untuk berbicara dengannya.
  5. Karakteristik Belajar
Baca Juga :  Strategi Pengembangan Kreativitas Anak Usia Dini

Karakteristik cara Belajar Anak Usia dini. Kegiatan Pembelajaran pendidikan anak usia dini harus disesuaikan dengan beberapa hal sesuai karakteristik cara belajar anak usia dini yang memuat hal-hal sebagai berikut:

  1. Belajar, bermain, dan bernyanyi.

Pembelajaran anak usia dini melalui belajar, bermain, dan bernyanyi merupakan karakteristik pembelajaran yang dapat membuat anak aktif, senang, dan bebas memilih. Anak-anak selalu melakukan kegiatan pembelajaran melalui permainan. Anak belajar melalui bermain dalam suasana yang menyenangkan akan membuat belajar anak menjadi lebih baik, serta dalam kegiatan belajarnya anak dapat menggunakan seluruh alat inderanya.

  • Pembelajaran yang berorientasi pada perkembangan.

Pembelajaran yang berorientasi pada perkembangan harus sesuai dengan tingkat usia anak, artinya pembelajaran harus diniati, dan kemampuan yang di harapkan dapat tercapai sesuai harapan serta kegiatan belajar tersebut dapat menantang untuk dilakukan anak usia dini tersebut. Selain berorientasi pada perkembangan harus mempertimbangkan konteks sosial budaya anak untuk mengembangkan program pembelajaran yang bermakna, serta guru perlu melihat anak dalam konteks keluarga, masyarakat, dan faktor budaya yang melingkupinya.


[1] Hasan, Aliah B. Purwakania, Psikologi Perkembngan Islami, (Jakarta: Rajawali Press),

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *