Pengertian Shalat Berjama’ah

  • Whatsapp
Undangan Digital

Shalat jamaah adalah shalat yang dikerjakan secara bersama-sama di bawah pimpinan imam. Dalam shalat jama’ah ada dua unsur dimana salah satu diantara mareka sebagai pemimpin yang disebut dengan imam, sementara unsur yang kedua adalah mereka yang mengikutinya yang disebut dengan ma’mum. Maka apabila dua orang sembahyang bersama-sama dan salah seoarang dari mereka mengikuti yang lain, maka keduanya disebut melakukan shalat berjamaah.

Shalat jamaah lebih baik (afdhal) karena mengandung hikmah yang sangat besar. Di mana di dalamnya terdapat semangat persaudaraan (ukwah), dan menambah semangat untuk melaksanakan ibadah, suasana kebersamaan dan keteraturan di bawah pimpinan seorang imam. Umat muslim laki-laki maupun perempuan yang berhimpun di suatu tempat (masjid) itu berdiri berbaris, sebaris atau beberpa baris dan memilih salah satu dari mereka (laki-laki) sebagai imam yang akan memimpin shalat jamaah tersebut, maka shalat tersebut sudah merupakan shalat jamaah yang sempurna. Sembahyang lima waktu bagi laki-laki, berjamaah di masjid lebih baik dari pada sembahyang berjama’ah di rumah, kecuali sembahyang sunnah, maka rumah lebih baik.

Bacaan Lainnya

  1. Hukum Shalat Jamaah dan Dasar Hukumnya
    Jumhur ulama sependapat bahwa shalat berjama’ah secara umum adalah lebih afdhal dari pada shalat sendirian. Namun dalam keadaan-keadaan tertentu, para ulama berbeda pendapat tentang hukum shalat jamaah, yaitu :
    a. Malikiyah diantara mereka ada yang berpendapat bahwa shalat jamaah sunnah muakkadah. dan ada yang berpendapat fardhu kifayah.

b. Hanabilah berpendapat wajib ‘ain atas orang-orang lelaki yang dapat melaksanakannya walaupun dalam keadaan musafir dan keadaan takut.
c. Syafi’iyyah, menentukan kewajiban sebagai fardhu a’in, bila tidak ada di suatu kota/desa selain dua orang muslim yang dapat berjama’ah, maka bagi mereka wajib melaksanakan tiap shalat fardhu dengan jamaah, agar mempertahankan syi’ar Islam dan sunnah Nabi, apabila jamaah sudah melaksanakan maka berbalik hukumnya menjadi fardhu kifayah.
d. Hanafiyah, berpendapat bahwa shalat jamaah adalah sunnah muakkadah hampir sama dengan wajib, berdosalah siapa yang biasa meninggalkanya.

Baca Juga :  Pembelajaran Literasi Sebagai Implementasi Merdeka Belajar Di Era New Normal

Sedangkan Ibnu Rusyd membagi hukum shalat jamaah mengelompokkan menjadi dua keadaan yaitu :
a. Segi hukum shalat berjama’ah
Dalam hal ini yang dijadikan pertimbangan adalah keadaan jamaah apakah mendengar suara azan atau tidak. Bagi orang yang mendengar azan jumhur fuqaha berpendapat hukumnya sunnah atau fardhu kifayah, sedangkan menurut kelompok ahlu dhahir, hukumnya adalah fardhu ‘ain bagi setiap mukallaf.

Pos terkait