Teori Bermain Bermain dan Permainan

Teori Bermain dan Permainan dibedakan menjadi 2 macam, yaitu : teori klasik dan teori modern. Teori Klasik : muncul pada abad 20, sebagian besar menggambarkan suatu kekuasaan dan kekuatan pada saat teori itu diangkat atau dimunculkan. Menurut pandangan para pakar Psikologi & Biologi teori klasik terdiri dari :  

Teori Teleologi/Pembawaan (K. Groos & Roeles)

Permainan merupakan kegiatan yang mempunyai tugas biologis yang akan dipergunakan mempelajari fungsi hidup, penguasaan gerak, keingintahuan, persaingan sebagai persiapan hidup dimasa yang akan datang.

Bacaan Lainnya

Teori Surplus Energi (H. Spencer)

Kelebihan tenaga yang dimiliki oleh seseorang akan disalurkan atau dikeluarkan melalui kegiatan bermain atau permainan. Surplus/kelebihan tersebut meliputi: Kelebihan energy, penyaluran emosi&vitalitas

Teori Rekreasi/Pelepasan (Lazarus & Schaller)

Bermain sebagai perimbangan antara kerja dengan istirahat. Kepenatan dan kejenuhan seseorang akan disalurkan melalui kegiatan bermain&berekreasi sebagai pelepasan agar kesegaran jasmani&rohaninya segera kembali.

Teori Sublimasi (Ed. Clapatade)

Melalui bermain seseorang yang memiliki insting/naluri yang rendah berproses menuju perubahan menjadi perbuatan& tindakan kea rah yang lebih baik

Rekapitulasi / Evolusi / Reinkarnasi (Hall)

Permainan merupakan kesimpulan dari masa lalu (anak akan bermain permainan yang pernah dimainkan oleh nenek moyangnya), anak akan tumbuh secara wajar jika ia mengalami tahap pertumbuhan dan perkembangan secara wajar sehingga perlu diperhatikan dan didukung tahap perkembangan anak tersebut

Teori Bermain Modern. Terdiri dari teori belajar social, teori psikoanalisa, teori kompensasi, teori kognitif

Teori Belajar Sosial

Manusia sebagai makluk monodualisme yaitu makluk individu dan makluk sosial. Bermain dapat menjadi sarana atau media untuk bersosialisasi dan berinteraksi, berkomunikasi dengan individu lain atau makhluk sosial 

Baca Juga :  Do’a Dan Keajaiban

Teori Psikoanalisa (Sigmund Freud)

Bermain sebagai media, sarana, alat atau cara untuk menyalurkan emosi-emosi dari dalam diri. Bermain juga sebagai media untuk belajar mengatasi pengalaman traumatik atau frustasi.

Teori Kompensasi

Bermain selain berfungsi sebagai pengisi waktu luang dan penyalur rekreasi tetapi tetapi menjadi kebutuhan untuk mendapatkan penghargaan dan sebagai pertahanan hidup (sebagai profesi).

Teori Kognitif (Piaget&Vygotsky)

Bermain merupakan bagian atau tahap perkembangan kognitif (daya tangkap, daya tiru, daya imajinasi daya ingat) yang harus dilalui oleh seorang anak. Bermain juga merupakan sarana belajar berpikir dan mengungkapkan ide-ide (kreatifitas/daya cipta) maupun imajinasi Tokoh Nasional Indonesia Ki Hadjar Dewantara, tentang bermain :yaitu : Bermain bagi anak merupakan kodrat alam mempunyai pembawaan masing masing serta kebebasan untuk berbuat serta mengatur dirinya sendiri.

Kekuatan kodrati yang ada pada anak ini tiada lain adalah suatu kekuatan dalam kehidupan lahir dan batin anak yang ada karena kekuasaan kodrat (karena faktor pembawaan atau keturunan yang ditakdirkan secara ajali).

Ki Hadjar Dewantara menaruh perhatian penuh terhadap permainan anak dalam kaitannya dengan pendidikan Nasional. Permainan sesuai dengan jiwa anak sebagai pemenuhan daya khayal dan dorongan bergerak, maka permainan merupakan f a k t o r yang sangat penting untuk pendidikan yang banyak diberikan di Taman Indrya, Taman Anak, dan Taman Muda.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *