Strategi Pembelajaran Konstruktivistik

Strategi Pembelajaran Konstruktivistik
Teori pembelajaran konstruktivistik adalah teori pembelajaran yang menyatakan bahwa belajar terjadi bila individu mengkonstruksikan sendiri pengetahuannya yang diperoleh dari interaksinya dengan lingkungannya. Teori ini sebenarnya berakar dari teori kognitif. Keduanya sama-sama memandang belajar sebagai proses mental bukan sekedar perilaku yang nyata.
Strategi Pembelajaran Konstruktivistik
Teori pembelajaran konstruktivistik muncul sebagai suatu revolusi dalam sejarah teori pembelajaran (Yount, 2010). Hal ini ditunjukkan dengan paradigma yang berbeda dari teori pembelajaran sebelumnya tentang pengetahuan, belajar, peran pengajar, dan peran pebelajar.

Dalam pandangan konstruktivistik, pengetahuan bukanlah sekedar kumpulan fakta. Pengetahuan adalah non-objektif, bersifat temporer, selalu berubah, dan tidak menentu (Brooks dan Brooks dalam Degeng, 1998).

Pengetahuan seseorang adalah konstruksi (bentukan) yang dilakukan oleh orang itu sendiri (Suparno, 1997). Pengetahuan itu dibentuk oleh struktur konsepsinya sewaktu dia berinteraksi dengan lingkungannya. Bila konsep tersebut dapat menjelaskan macam-macam persoalan yang berkaitan dengan konsep itu, maka konsep itu dibentuk menjadi pengetahuan bagi orang tersebut. Misalnya, seseorang belajar tentang perbedaan pria dan wanita. Konsepsinya akan ciri-ciri seorang wanita akan menjadi pengetahuan bagi dia bila konsepsi itu dapat dipakai dalam menganalisis wanita-wanita lain yang dijumpainya.

Contoh lain, pengetahuan seorang anak akan kucing tidak terjadi hanya sekali waktu ketika dia bertemu dengan kucing. Pengetahuannya tentang kucing merupakan proses dia semakin tahu tentang kucing. Pertama hanya melihat, kemudian mengusap, lalu mulai bermain dengan kucing. Di saat lain dia melihat kucing-kucing yang lain. Selanjutnya interaksi dia dengan kucing-kucing lain menjadikan pengetahuannya akan kucing semakin lengkap. Itulah pengetahuannya tentang kucing.

Proses pengkonstruksian tersebut berjalan terus menerus dalam diri pebelajar dengan setiap kali dia harus mengadakan reorganisasi karena adanya suatu pemahaman yang baru (Suparno, 1997).

Baca Juga :  Sisi Baik Dan Buruk Belajar Online

Belajar menurut teori konstruktivistik terjadi bila pebelajar terlibat aktif mengkonstruksi pengetahuan dan pemahaman (Santrock, 2008).  Yount mengatakan belajar adalah usaha pebelajar mencari makna dari interaksinya dengan lingkungannya dan memodifikasi konsep yang telah ada (Yount, 2010). Selain itu menurut Brooks dan Brooks, tujuan belajar adalah penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkrit, aktivitas kolaboratif, dan refleksi serta interpretasi (Degeng, 1998).

Jadi dapat disimpulkan belajar itu adalah suatu proses yang menuntut pebelajar aktif untuk menemukan makna dari pengalaman-pengalamannya.

Dengan melihat proses tersebut, maka dapat disimpulkan tidaklah mungkin pengetahuan dapat ditransfer begitu saja oleh seorang pengajar kepada murid tanpa murid itu sendiri mengartikan/memaknai apa yang telah diajarkan kepadanya dan apa yang dialaminya.

Tags: